Jodoh adalah Cerminan Diri (?) 2

Sumber gambar: beautynesia.id

Selama aku menginjakkan kaki di tanah rantau, aku menemukan fenomena-fenomena yang bermacam-macam dan tidak masuk akal jika aku mengikuti teori yang mereka dengungkan begitu saja tanpa dicerna dan dicermati terlebih dahulu. Karena selama perjalananku itu, aku diperlihatkan sosok seorang istri tokoh masyarakat yang melakukan hal tidak senonoh terhadap laki-laki paruh baya yang bukan mahramnya sepeninggal suaminya, yang konon suaminya sangat disegani oleh penduduk desanya. Ada pula fenomena yang sama, tetapi kali ini suaminya yang melenceng.

Di lain tempat, aku menemukan banyak pasangan suami istri yang berlainan karakternya, berlainan cara pandangnya terhadap agama Islam, Allah, hingga apa yang ada di dalam Islam semuanya, bahkan sampai fenomena nikah beda agama yang tidak logis.

Ada salah satu orang yang kukenal, dia hanya menunaikan shalat ketika sedang bepergian jauh bersama keluarga dan ketika ada tamu di rumah. Padahal istrinya sangat rajin shalat. Tetapi yang membuatnya lebih menarik adalah karakternya yang jauh lebih baik dari pada istrinya. Dia hanya ingin mengenal Islam secara tulus ikhlas tanpa paksaan. Karena dia berpikir, untuk apa shalat jika masih melakukan hal buruk selama hidupnya. Dan aku tahu siapa yang dia maksud, adalah istrinya sendiri.

Atau, bagaimana dengan sepasang suami istri yang aku kenal dan mereka menikah berbeda agama? Yang pada akhirnya, istrinya berpindah ke dalam agama suaminya, Kristen, setelah menikah. Padahal dulunya, dia sangat taat dan rajin beribadah tengah malam di kala dia masih menjadi muslim. Proses pindah agama yang tidak logis, bukan? Tetapi uniknya, mereka memiliki etos kerja yang sama-sama kuat. Dan itulah kelebihan mereka.

Banyak sekali aku temukan berbagai macam fenomena manusiawi di kehidupan ini. Dan itu cukup untuk mematahkan isu yang menjadi teori sekaligus doktrin tersebut. Hanya saja, yang aku sayangkan dari mereka, para penganut isu itu, selain sikap stagnasinya adalah sikap masa bodoh yang tidak pada tempatnya dan egosentrisme yang sangat tinggi. Sehingga itu menyebabkan mereka menjadi tertutup pikirannya. Mungkin, jika mereka para penganut teori itu melihat fenomena-fenomena yang pernah aku lihat dengan mata kepala mereka sendiri, kemudian mereka mengamatinya, mereka akan memahami sesuatu yang selama ini tertutup oleh sikap stagnasinya. Mungkin. Dan aku harap begitu.

Masalah lainnya adalah sering kali kudengar mereka menyebutkan dalil agama sebagai penguat isu yang mereka bawa. Padahal mereka belum tahu cara menggunakannya dengan benar. Meskipun ada dalil ayat Al-Quran dan hadis yang menyebutkan bahwa tidak mungkin istri-istri yang Allah pilihkan untuk Rasulullah saw. adalah perempuan-perempuan yang buruk. Artinya, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah saw. dengan perangainya yang begitu sangat baik pasti akan mendapatkan jodoh yang baik. Dan di sisi lain dapat ditarik kesimpulan, jodoh yang buruk hanyalah untuk orang yang buruk.

Tetapi, coba kita telaah kembali dan merenungkan sejarah syariat Islam yang menegaskan bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang diberikan perlindungan penuh oleh Allah dari segala bentuk dosa dan bahaya. Istilah itu dikenal dengan sebutan ma’sum. Lantas, apakah kemudian kita pantas menyamakan beliau saw. yang sudah dijamin kema’sumannya dengan diri kita, yang bahkan untuk dosa sekecil biji sawi saja Allah tidak memberikan jaminan ma’sum itu kepada kita?

Tidak sepatutnya kita menyamakan diri kita dengan Rasulullah saw. dengan membawa-bawa dalil keagamaan. Karena tidak ada satu manusia pun yang berhak untuk menyamainya, sekalipun berusaha sekeras apa pun, tetap saja tidak akan pernah sama. Dan yang aku tahu, Allah telah menetapkan dua sisi baik dan buruk dalam diri manusia. Sisi baik ini memiliki tugas dan fungsi yang sangat besar, sedangkan sisi buruk sama juga memiliki tugas dan fungsi, tetapi dampaknya sangat berbahaya. Sisi baik inilah yang akan mengubah keadaan buruk menjadi baik.

Untuk apa bersikeras berpedoman pada isu di atas yang si pengusungnya saja tidak mengerti makna atau maksud dari orasinya tersebut. Lebih baik kita, sebagai manusia biasa, mengedepankan etika dari pada logika yang terkadang jika salah menggunakannya, dia bisa menyesatkan orang lain dan menyakitinya sebagai propaganda yang tak terkontrol. Na’udzubillah min dzalik. Karena etika adalah visi yang disematkan oleh Allah swt. kepada manusia pilihannya, Rasulullah saw.

Dan etika yang aku maksud tidak sebatas pada etika terhadap sesama, tetapi juga etika terhadap Tuhan. Etika bagaimana menggunakan anugerah yang telah diberikan kepada kita, manusia, dengan sebaik mungkin. Seperti akal dan logikanya, hati dan nuraninya, otak dan kecerdasannya, jiwa dan kesuciannya, hingga raga dan kekuatannya.

Mungkin, ada dua hal yang ingin aku tawarkan di sini. Dan ini adalah tawaran dan versi pemikiran sederhanaku. Tawaran cara memandang dan menyikapi sesuatu dengan kesederhanaan. Anggap saja, ini adalah khazanah keilmuan universitas kehidupan yang tidak pernah dipelajari di tempat sekolah-sekolah formal.

Barangkali yang dimaksud dari isu yang diusung itu adalah teori yang diterapkan setelah menikah, bukan sebelumnya. Dan interpretasi yang mendekati benar dan tepat dari isu itu adalah bahwa jodoh akan menjadi cerminan diri kita baik maupun buruknya. Karena yang aku tahu – saat aku mempelajari persoalan jodoh dan keluarga dengan melihat dan mendengarnya langsung dari subjeknya – seseorang bisa berubah setelah dia menemukan jodohnya atau bertemu dengannya. Terlepas apakah berubah dalam sisi baik atau berubah dalam sisi buruk dalam diri masing-masing pasangan. Bagi kamu yang sudah menjalani fase pernikahan hingga menemukan bumbu-bumbunya, aku yakin kamu pasti paham yang aku maksud.

Dan terakhir, menurut hematku, seseorang yang disebut sebagai jodoh atau calon jodoh adalah pelengkap bagi pasangannya setelah mereka dipertemukan oleh takdir. Dan setelah menikah, dia akan menjadi cerminan dari pasangannya atau menjadikan pasangannya sebagai cerminan dari dirinya seperti yang baru saja aku singgung.

Sebelum aku akhiri, pernahkah kamu memahami suatu hal yang berkaitan dengan psike, psikis, psikologis dan mental manusia? Bagaimana rasanya saat kamu berhadapan dengan orang yang tidak sebaik dan seberuntung dirimu lalu dengan ringannya kamu membawakan isu itu di hadapannya tanpa memikirkan perasaan atau harapannya untuk kehidupannya di masa depan, yang sudah pasti tidak hanya menyangkut tentang dirinya saja, seperti ingin memiliki pasangan dan keturunan yang lebih baik darinya?

Atau, bagaimana rasanya saat kamu menjadi orang yang tidak sebaik dan seberuntung lawan bicaramu dan dia membicarakan tentang jodoh adalah cerminan dari baik atau buruknya seseorang selama masa hidupnya?

Aku yakin, meskipun kamu memiliki sikap legawa, tetapi dalam lubuk hatimu yang paling dalam pasti ada rasa sedih. Bahkan mungkin kamu merasa terluka oleh ucapannya itu meskipun hanya sedikit karena teranulir oleh sikap legawamu. Dan jika begitu, legawa menjadi kelebihanmu yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya.

Karena dalam hal ini manusia dianugerahi oleh Allah swt. sebuah kelembutan rasa yang tidak bisa disentuh dan dimengerti oleh siapa pun kecuali Penciptanya dan makhluk yang dikehendakinya. Sebuah kebijaksanaan yang seharusnya bisa dijaga dengan baik oleh setiap manusia. Yaitu sebuah hati dengan nuraninya yang tidak dimiliki oleh makhluk lain kecuali manusia.

Dan semua itu adalah tentang etika hidup bersosial. Tidak semua yang kita anggap baik itu benar. Begitu juga tidak semua yang kita anggap benar itu baik. Semuanya nisbi, alias belum tentu ketetapannya. Tetapi, segala sesuatu yang berasal dari nurani jauh lebih baik dari pada nafsu. Karena nurani manusia merupakan fitrah yang suci yang disematkan oleh Allah sebagai petunjuk menuju kebenaran.

Lisan memang selalu kejam bagi orang yang tidak memiliki kontrol diri. Entah objek maupun subjek. Semua sama. Dan semua hanyalah tentang kesederhanaan dan ketenangan dalam menyikapi suatu hal. Tidak perlu muluk-muluk, tergesa-gesa dan gegabah dalam bertindak. Pilah sebelum pilih. Timbang sebelum tumbang. Dan tabayun sebelum membalun.