Jodoh adalah Cerminan Diri (?) 1

Sumber gambar: humairoh.com

Ada satu isu yang menarik untuk dibahas dan dikaji serta dikupas secara mendalam. Isu itu sangat kental di tengah-tengah masyarakat yang aku temui. Bahkan, jika aku tidak keliru, isu itu telah menjadi sebuah doktrin turun temurun dari nenek moyangnya. Dan itu adalah isu tentang jodoh sebagai cerminan diri.

Sebelum beranjak ke pembahasan itu, perlu dicatat bahwa kita adalah makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa lepas dari keberadaan, keterikatan dan hubungannya dengan makhluk yang lain. Oleh karena itu dibutuhkan unsur-unsur dan prinsip-prinsip yang mendukung terjalinnya kehidupan yang baik antar sesama. Sehingga hubungan antara satu dengan yang lainnya akan menciptakan persaudaraan  yang harmonis.

Dan di antara unsur-unsur dan prinsip-prinsip itu adalah etika dan moral. Dua hal ini sangat krusial di tengah-tengah masyarakat yang semakin hari kian bertambah populasinya. Semakin banyak jumlah populasi manusia, semakin beragam karakter dan problematiknya. Sehingga tidak jarang ditemukan perselisihan hanya karena kesalahpahaman dalam memahami atau memilih sesuatu. Padahal seharusnya itu adalah hak veto masing-masing individu atas sikapnya terhadap suatu hal. Dan yang lain seharusnya menghormati keputusannya. Jika ada kesalahan, maka luruskanlah dengan sebaik-baiknya cara.

Seperti yang sering kali orang bilang, jodoh adalah cerminan diri, jika baik maka akan mendapatkan yang baik, jika buruk maka akan mendapatkan yang sepadan dengannya. Lalu muncul dalam benakku sebuah pertanyaan, apakah benar begitu interpretasinya? Isu itu seakan dipaksakan untuk ditanamkan dalam diri manusia dengan tujuan yang ‘mungkin’ adalah kebaikan. Dan biasanya, hal itu digadang-gadang sebagai pemacu untuk menyesuaikan diri agar menjadi pribadi yang baik sebelum akhirnya bertemu dengan jodoh yang sesuai dengan kepribadiannya.

Bagiku, tidak segampang itu menentukan seperti apa jodoh seseorang. Tidak segampang lisan mengucapkan kata-kata yang dikehendakinya. Dan tidak segampang otot-otot saraf lembut mengedipkan kedua mata. Karakter, tabiat, watak, atau sifat, semua itu adalah pemberian Allah yang menyatu dengan jiwa dan raga manusia. Dan siapa pun tidak bisa menjustifikasi seseorang dengan apa pun yang berada di luar kendalinya. Seperti halnya saat kita berspekulasi dalam menentukan rasa buah, apakah manis atau asam, apakah sudah masak atau masih mentah. Buah tidak akan diketahui rasanya kecuali setelah dicicipi dan dimakan, bukan ditebak-tebak atau hanya dilihat saja.

Oleh karena itu, jika seseorang yang kesehariannya melakukan tindakan buruk, apakah kemudian jodohnya bisa dibilang cerminan darinya yang melakukan tindakan buruk juga? Jika seseorang yang dalam hidupnya pernah melakukan sebuah perbuatan yang melanggar norma agama atau negara, apakah kemudian jodohnya bisa disebut cerminan darinya yang juga melakukan tindakan demikian? Dan jika seseorang yang kepribadiannya baik, akhlaknya mulia dan dikenal oleh banyak orang kebaikannya, apakah kemudian jodohnya bisa dikategorikan sebagaimana orang-orang menilai pasangan satunya? Atau lebih sederhananya, apakah cermin yang dimaksud oleh mereka dalam kalimat itu bermakna  dan bermaksud demikian? Kurasa tidak.

Baiklah. Aku akan mengajakmu sejenak untuk rileks agar bisa berpikir lebih dalam dan lebih terbuka tentang hakikat cermin. Dan yang pasti, agar kamu bisa mengikuti turku ini.

Cermin, seperti yang sudah kita tahu, merupakan sebuah benda keras yang salah satu mukanya dicat dengan air raksa sehingga dapat memperlihatkan bayangan benda yang ditaruh di depannya. Bayangan yang muncul di dalam cermin secara detail akan mengikuti bentuknya sesuai dengan benda tersebut. Tidak akan ada celah sedikit pun yang menunjukkan kekurangan pada bayangan yang terperangkap di dalam cermin. Karena sifat cermin adalah pantulan, memantul dan memantulkan, atau menyalin dengan pantulan atau salinan yang sama pada sisi yang menghadap cermin.

Berbeda halnya jika kondisi cermin tersebut tidak seutuhnya sempurna bentuknya. Seperti cermin yang mengalami patah hati alias pecah, atau cermin yang tidak pernah diurus oleh pemiliknya alias kusam. Cermin juga sama seperti manusia loh, jangan salah. Dia bisa patah hati dan gundah atau galau merana di kala diperlakukan dengan tidak semestinya. Bisa jadi, saat yang bercermin memiliki paras yang sangat elok, tetapi karena cerminnya pecah atau kusam, maka keelokannya tidak bisa dipantulkan dengan sempurna. Dan ketika manusia mengalami dua hal itu atau salah satunya, pasti tingkah lakunya akan menunjukkan keadaan yang sedang dialaminya dalam kehidupannya. Entah tidak bersemangat, loyo, sedih berlarut-larut, malas-malasan dan sebagainya.

Lantas, bagaimana bisa mereka mengibaratkan jodoh adalah cerminan diri, jika baik maka akan mendapatkan yang baik, jika buruk maka akan mendapatkan yang sepadan dengannya? Sedangkan manusia kodratnya adalah diciptakan berbeda-beda. Dan untuk mengetahui sesuatu yang oleh pancaindra manusia tidak dapat dicerna, sudah sepatutnya kita tidak tergesa-gesa melakukan justifikasi. Karena bagiku dunia ini, dan juga kehidupan ini, tidak sependek seperti yang kita kira. Tetapi juga tidak semudah dan serumit seperti yang kita bayangkan.